Senin, 20 Juni 2011

CONCEPT AND SOCIAL LEARNING THEORY

A. PENDAHULUAN
Bagi para guru, salah satu pertanyaan yang paling penting tentang belajar adalah : Kondisi seperti apa yang paling efektif untuk menciptakan perubahan yang diinginkan dalam tingkah laku? Atau dengan kata lain, bagaimana bisa apa yang kita ketahui tentang belajar diterapkan dalam instruksi? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat pada penjelasan-penjelasan psikologis tentang belajar.
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu lainnya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesama, maupun interaksi dengan tuhannya, baik itu sengaja maupun tidak disengaja. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketidak terbatasannya akal dan keinginan manusia, untuk itu perlu difahami secara benar mengenai pengertian proses dan interaksi belajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah-laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mangarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Konsep dan Belajar
Konsep adalah suatu rancangan kedepan yang akan dilakukan oleh konseptor agar tercapai tujuannya, sedangkaan Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditujukan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik akibat sengatan serangga, patah tangan, dan sebagainya bukanlah termasuk perubahan akibat belajar. Oleh karenanya, perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah jiwa yang mempengaruhi tingkahlaku seseorang.
Teori belajar sosial yang juga masyhur dengan sebutan teori observational learning /belajar observasional/dengan pengamatan[1],tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura,seorang psikologi pada Universitas Stanford Amerika Serikat, bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflek otomatis atas stimulus melainkan juga akibat reaksi ayang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan sekema lingkungan kognitif manusia itu sendiri[2].
Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral, yang sebagian besar yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Dalam hal ini seorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau sekelompok orang mereaksi atau merespon sebuah stimulus tertentu. Siswa ini juga dapat mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misalnya guru atau orang lain[3].
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning /pembiasaan respond dan imitation/ peniruan,
Conditioning menurut prinsip-prinsip conditioning, prosedur-prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yaitu dengan reward / ganjaran / memberi hadiah dan punishment / hukuman /memberi hukum,dasar pemikirannya adalah sekali seorang siswa mempelajari antara perilaku-perilaku yang menghasilkan ganjaran dan perilaku yang menghasilkan hukuman, ia senangtiasa berpikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang mana yang perlu ia perbuat[4]. Orang tua dan guru sangat diharapkan member penjelasan agar siswa tersebut benar-benar paham mengena jenis perilaku mana yang menghasilkan ganjaran dan jenis perilaku mana yang menghasikan hukuman/saksi.
Reaksi-reaksi seorang siswa terhadap stimulusyang ia pelajari adalah hasi dari adanya pembiasaan merespon sesuai dengan kebutuhan. Melalui proses pembiasaan merespon (conditioning) ia juga menemukan pemahaman bahwa ia dapat menghindari hukuman dengan memohon maaf yang sebaik-baiknya agar kelak terhindar dari saksi[5].
Imitation proses imitasi peniruan dalam hal ini orang tua dan guru seyogyanya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berprilaku sosial dan moral siswa, contoh seorang siswa mengamati gurunya sendiri yang sedang melakukan perilaku sosial umpamanya seorang guru menerima tamu lalu perbuatan menjawab salam, beramah tamah dan seterusnya akan diserap oleh seorang siswa, diharapkan cepat atau lambat siswa tersebuut mampu meniru sebaik-baiknya perbuatan sosial yang dicontohkan oleh modelnay.
Kualitas kemampuan siswa dalam melakukan perilaku sosial hasil pengamatan model tersebut antara lain tergantung pada ketajaman presepsinya sesuai dengan ganjaran dan hukumannya yang berkaitan benar atau salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi.selain itu tingkat kualitas imitasi tersebut juga tergantung pada persepsi siswa terhadap siapa yang menjadi model, semangkin piawai dan berwibawa seorang model semangkin tinggi pula kualitas imitasi perilaku sosial dan moral siswa tersebut[6]

2. Pengaruh Social Learning Theory
Pada manusia, setelah masa bayi berakhir, menyusul pula waktu belajar yang sama ia belum bisa berjalan sendiri, berarti manusia pada masa kanak-kanak banyak memerlukan pemeliharaan orang lain, di samping itu pula kita dapat melihat bahwa orang dewasa cenderung untuk memelihara dan menolong yang lebih muda dan juga cenderung untuk berkumpul dan bekerja sama dengan orang-orang dewasa yang lain[7]
Dari urayan di atas dapat di simpulkan bahwa manusia adalah mahluk sosial dan tidak bisa hidup sendirian pasti hidup dalam golongan-golongan,ia dilahirkan dalam lingkungan keluarga di situ ia telah menjadi anggota lingkungan keluarga dan dibesarkan di lingkungannya,bila ia bersekolah maka ia menjadi anggota kelas disitulah ia memperoleh sahabat-sahabat dalam hidupnya, sebagai penduduk desa kota atau negeri ia juga mempunyai teman, karena ia menjadi angota di lingkunagannya[8].
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa anak itu dibesarkan di tengah-tengah berbagai kumpulan, artinya anak itu dipenuhi oleh anggota keluarganya dan teman-teman sepermainannya, oleh lingkungan tetangga dan seterusnya akan tetapi ada juga pengaruh orang-orang di luar itu dipengaruhi oleh anggota-anggota keluarga oleh teman kumpulan tempat anak dibesarkan, ada orang pedagang bercakap-cakap dengan anak itu ada kenalan orang tuanya yang nginap di rumhnya beberapa hari sehingga lingkungan anak itu berubah.
Seorang anak dapat berubah kelakuanya, karena meniru kebiasaan-kebiasaan saudara-saudara yang datang kerumahnya yang sebelumnya tidak kenal atau anak-anak lain yang bermain kerumahnya yang asing baginya dan bermain dengan mereka, malahan dapat juga terjadi anak-anak terpengaruh oleh salah satu gejala jahat, segala pengaruh yang datangnya dari luar disebut pengaruh linggkungan sosial.[9]
Tiap anak berlainan lingkungan sosialnya dan bawaan sosialnya, karena itu pada tiap-tiap anak perkembangan sosialnya berlainan pula,namun demikain dalam perkembangan sosial anak-anak itu ada juga kelihatan sifat-sifat umumnya yang tertentu[10]

3. Ciri-Ciri Belajar Sosial
a. Pendekatan belajar sosial ditekankan pada dua aspek pokok yaitu imitation dan conditioning
b. Guru dan orang tua serta lingkungan sekitar sangat berperan penting dalam membentuk karekteristik seorang siswa
c. Perubahan yang disadari.
Artinya individu yang belajar, menyadari terjadinya perubahan itu atau tidaknya individu merasakan terjadinya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya: individu menyadari bahwa pengetahuannya, keterampilannya, atau sikapnya berubah/bertambah.
d. Perubahan itu bersifat kontinu dan fungsional.
Artinya, perubahan itu merupakan perubahan yang berlangsung terus-menerus atau dinamis. Suatu perubahan yang akan menyebabkan perubahan yang berikutnya dan bersifat fungsional, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi itu berguna bagi kehidupan individu dan bagi proses belajar berikutnya. Misalnya, jika seorang anak menulis perubahan yang terjadi karena belajar ini antara lain. Ia akan terampil menulis. Keterampilan menulis ini akan berlangsung terus-menerus hinggan keterampilan menulis itu menjadi lebih baik dan sempurna .
e. Perubahan yang bersifat positif dan aktif.
Artinya: perubahan yang bersifat positif ialah perubahan itu senantiasa bertambah dari perubahan hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya. Juga perubahan iu tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
f. Perubahan yang bukan karena pengaruh obat-obatan atau penyakit tertentu. Perubahan tingkah laku karena alcohol misalnya, atau karena penuakit, mabuk, dan lain sebagainya, tidak dapat diktakan perubahan karena belajar. Hal ini sebab perubahan tersebut selain tidak disadari, juga bersifat pasif negative, tidak fingsional dan momentul.
g. Perubahan yang bertujuan atau terarah.
Artinya, terjadi perubahan tersebut karena adanya tujuan yang ingin dicapai. Jadi perubahan belajar terarah kepada tujuan yang jelas dan disadari.[11]
h. Semangkin tingi atau semangkin piawai dan beribawa seorang model yang resepsi seoragn siswa semangkin tinggi pula kualitas imitasi dan konditionong siswa terhadap moral dan perilaku siswa.

4. Hubungan Belajar Sosial Dengan Hakekat Belajar
Dalam konsep teori belajar kontek sosial tidak terlepas, artinya system sosial yang ada di masyarakat berpengaruh langsung dalam perubahan belajar,system sosial tersebut menganndung konsep eksistensi individu di masyarakat dalam hubungannya dalam kehidupan masyarakat sekitarnya[12].
Sejalan dengan hal di atas john Dewey berpendapat yang dikutip oleh Dr.H.Syaiful Sagala,M.Pd, dalam bukunya yang berjudul Konsep dan makna pembelajaran, ia memandang bahwa pendidikan merupakan alat rekontruksi sosial yang paling efektif,dengan membentuk individu dapat membentuk masyarakat, pendidikan merupakan badan yang konsturtif untuk memperbaiki masyarakat dan membina masadepan yang baik, jadi pendidikan sosial mengutamakan kepentingan sosial di atas kepentingan individu[13]

5. Konsep teori pelaksanaan kurikulum
Untuk menetapkan semua tugas yang relevan dalam pengembangan kurikulum ada beberapa komponen pelaksanaan kurikulum yang memainkan peranan penting
a. Masyarakat adalah: kehidupan masyarakat berlandasan pada nilai-nilai keagamaan,sosial,budaya,sebagian nilai-nilai tersebut lestari,sebagian nilai-nilai tersebut berubah sesuai dengan perkembagan IPTEK
b. Masyarakat merupakan sumber nilai yang memberikan arah normative terhadap dunia pendidikan
c. Kehidupan masyarakat ditingkatkan mutunya oleh individu yang telah mampu mengembangkan dirinya melalui pendidikan
d. Suubjek Didik adalah: bertanggung jawab atas pendidikan sendiri berdsarkan wawasan pendidikan seumur hidup
e. Subjek didik memiliki potensi yang berbeda sehingga setiap subjek didik masing-masing merupakan insan yang unik
f. Subjek didik memelihara pembinaan secara individual dan perlakuan secara manusiawi
g. Subjek didik merupakan insane yang aktif menghadapi lingkungan hiidupnya
h. Pendidik/guru adalah: guru adalah agen pembaharuan, karena itu diharapkan guru jangan ketinggalan informasi
i. Guru berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat
j. Guru sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang baik untuk belajar para subjek didik
k. Guru bertanggung jawab secara froposional untuk selalu meningkatkan dirinya[14].
Ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dimana dituntut adanya kerja sama yang baik dalam mencapai suatu tujuan yang telah digariskan oleh kurikulum, diharapkan dengan adanya usaha maksimal mungkin dapat meningkatkan taraf pendidikan yang baik di negara kita, sehingga kualitas sumber daya manusianya pun dapat diandalkan dalam berbagai bidang.
Dalam model kebutuhan sosial tugas perencana pendidikan adalah harus menganalisa kebutuhan pada masa yang akan datang dengan menganalisa pertama pertumbuhan penduduk, kedua partisipasi dalam pendidikan, arus murid dan keinginan masyarakat[15].

6. Karakteristik perubahan hasil belajar
a. Perubahan intensional
Perubahan intensional adalah perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, dengan kata lain bukan kebetulan, karekteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialamai atau sekurang-kurangnya ia merasakan perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengethuan,kebiasaan, sikap dan pandangan tertentu,keterampilan.
b. Perubahan positif-aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik,bermanfaat, serta sesuai dengan harapan, hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senangtiasa merupakan penambahan perubahan yaitu memperoleh sesuatu yang lbih baik dari sebelumnya. Adapun perubahan aktif artinay tidak terjadi dengan sendirinya seperti preses kematangan misalnay bai yang bisa merangkak setelah bisa duduk, tetapi karena usaha siswa itu sendiri.
c. Perubahan Efektif-Fungsional
Perubahan yang timmbul karena proses belajar bersifat efektif,yakni hasil guna,artinya perubahan tersebut membawa pengaruh makna dan manfaat tertentu bagi siswa , perubahan fungsional dapat diharapkan member manfaat yang luas misalnya ketika siswa menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan lingkunangankehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kehidupan sehari-hari[16].

C. KESIMPULAN
Konsep adalah suatu rancangan kedepan yang akan dilakukan oleh konseptor agar tercapai tujuannya, sedangkaan Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga.
Teori belajar sosial yang juga masyhur dengan sebutan teori observational learning /belajar observasional/dengan pengamatan[17],tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura.
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning /pembiasaan respond dan imitation/ peniruan.
manusia adalah mahluk sosial dan tidak bisa hidup sendirian pasti hidup dalam golongan-golongan,ia dilahirkan dalam lingkungan keluarga di situ ia telah menjadi anggota lingkungan keluarga dan dibesarkan di lingkungannya.
Ciri-ciri belajar sosial
Perubahan yang terjadi secara sadar.
Perubahan dalam belajar yang bersifat fungsional.
Perubahan dalam belajar yang bersifat positif dan aktif.
Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

D. DAFTAR PUSTAKA
1. Ahmaadi Abu Drs, 2001, Ilmu Pendidikan, Jakarta:Rineka Cipta.
2. http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/t111-ciri-dan-proses-belajar-serta-faktor-yang-mempengaruhi-kesulitan-belajar diakses pada tgl 26-12-2010 jam 13.20
3. http://ryan2010s.blogdetik.com/2010/12/19/prinsip-belajar/, diakses pada tgl 26-12-2010 jam 13.25
4. Sa’ud Udin Syaifudin,M.Ed.,Ph.D dan Makmun.Abin Syamsuddin,M.A, Prof.Dr ,tt, Perencanaan Pendidikan Suatu pendekatan komprehensif, Bandung:PT.Remaja Rosda Karya.
5. Sagala H.Syaiful,M.Pd, Dr, 2006, Konsep Dan Makna Pembelajaran,.Bandung:AlfaBeta.
6. Syah Muhibbin,M.Ed, 2006. Psikologi Belajar ,Jakarta: PT. Graja Grafindo Persada.
footnote

[1] Muhibbin Syah,M.Ed, psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006),hlm 106
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] ibid
[5] ibid
[6] Ibid
[7] Drs.H.Abu Ahmaadi, Ilmu Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta,2001),hlm.273
[8] ibid
[9] Ibid, hlm 275
[10] Ibid hlm 276
[11] http://ryan2010s.blogdetik.com/2010/12/19/prinsip-belajar/ dan http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/t111-ciri-dan-proses-belajar-serta-faktor-yang-mempengaruhi-kesulitan-belajar
[12] Dr.H.Syaiful Sagala,M.Pd,Konsep Dan Makna Pembelajaran,(Bandung:AlfaBeta,2006), hlm 257
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Udin Syaifudin Sa’ud,M.Ed.,Ph.D dan Prof.Dr.Abin Syamsuddin Makmun,M.A,Perencanaan Pendidikan Suatu pendekatan komprehensif,(Bandung:PT.Remaja Rosda Karya),hlm 237.
[16] Muhibbin Syah, Op.Cit, hlm 118
[17] Muhibbin Syah,M.Ed, psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006),hlm 106

Tidak ada komentar:

Posting Komentar